*Umur 1 tahun bisa jalan, ngomong, ketawa
*Umur 3 tahun bisa lari, ngomong lancar, ketawa, nonton anime, main
*Umur 5 tahun bisa makan sendiri, minum sendiri, hatam Iqra1/6 & Juz amma, nonton anime, main
*Umur 7 tahun bisa berangkat sekolah sendiri, naik angkot sendiri, belajar sendiri,nonton anime, Music, main bareng
*Umur 9 tahun naik sabuk merah Merpati Putih, kelas 4 SD mulai kenal banyak tentang dunia game, Music, nonton anime, main bareng
*Umur 11 tahun bisa naik motor, Belajar keras masuk SMPN 9 Bogor, Game, nonton Anime, main bareng
*Umur 13 tahun Berhasil masuk SMP favorite, Paskibra, Game, nonton Anime, main bareng
*Umur 15 tahun Berhasil masuk SMA favorite, Game, nonton Anime, main bareng
*Umur 17 tahun Hatam, Mulai nyusun rencana hidup, Mandiri, Game, nonton Anime, Main
*Umur 19 tahun bisa nyetir mobil, punya kerjaan sendiri walupun paruh waktu (biar nggak ngeberatin orang tua sekalian pengalaman kerja), Kuliah, Game, nonton Anime
*Umur 21 tahun Punya SIM A/C ,tambah mandiri, tambah Ilmu, tambah bijaksana, Kuliah, Game, nonton Anime
*Umur 23 tahun Merintis karier, bergabung dengan Organisasi Nasional, bekerja di sebuah perusahaan, punya usaha, tetap belajar, menambah wawasan, Game, nonton Anime
*Umur 25 tahun Punya Rumah sendiri, bergabung dengan Organisasi Internasional, Memiliki perusahaan sendiri, tetap belajar, menambah wawasan, Game, nonton Anime
*Umur 27 tahun Punya Mobil dan Motor sendiri, Perusahaan bertambah cabang, Game, nonton Anime
*Umur 29 tahun membuat Dojo, Kuliah Magister, Menjalankan Perusahaan
*Umur 31 tahun mendapat gelar magister, Perusahaan berkembang ke Internasional, Membuat Rumah bertambah besar
*Umur 33 tahun membuat Restoran , Perusahaan berkembang, Hotel Berkembang
*Umur 35 tahun Restoran coba Go Internasional, Punya perternakan sapi
*Umur 37 tahun beli pertambangan Minyak atau emas
*Umur 39 tahun membesarkan Rumah kembali
*Umur 41 tahun Pensiun dini, kerja di balik komputer, memerintah semuanya di balik komputer, Music, Game, nonton Anime
*Umur 43 tahun kerja di balik komputer, memerintah semuanya di balik komputer, Music, Game, nonton Anime
*Umur 45 tahun kerja di balik komputer, memerintah semuanya di balik komputer, Music, Game, nonton Anime
*Umur 47 tahun kerja di balik komputer, memerintah semuanya di balik komputer, Music, Game, nonton Anime
Just that Life is so boring but simple
:)
Senin, 13 Januari 2014
Kamis, 09 Januari 2014
tugas soft skill 14 reportase
Laporan yang dirilis Jumat (3/1/2014)
lalu menyatakan dengan alasan yang tidak diketahui, pengemudi mobil
kehilangan kendali. Mobil menabrak pohon, terbalik hingga terbelah
menjadi dua.
Di temuan sebelumnya, Walker dinyatakan
meninggal karena kombinasi luka traumatis dan termal. Walker yang
dikuburkan bulan lalu di Forest Lawn Cemetery, Los Angeles disebutkan
meninggal dengan posisi berbaring telentang di kursi penumpang.
Bagian atas kepalanya menghadap ke Barat.
Lengan kanannya membungkuk di siku dengan tangan kanannya. Sedangkan
kedua kakinya ditekuk.
Di sana, juga disebutkan kendaraan tersebut mencapai batas kecepatan di atas rata-rata sehingga mobilnya hampir terbelah dua.
Kematian mendadak Walker menjadi pukulan
keras terhadap orang-orang sekitarnya. Pada Kamis (2/1/2014) lalu,
bintang ‘Fast and Furious’ Vin Diesel mengunggah dua foto dirinya
bersama Walker ke laman facebook.
sumber:http://www.beritakaget.com/berita/10784/ini-dia-temuan-terbaru-terkait-kecelakaan-maut-paul-walker.html
tugas softskill 13 reportase
nama : rizka septa anugrah
kelas :1pa11
npm : 17513902
Ekonom Drajad Wibowo mengungkap beberapa contoh dari pengerukan uang haram pelaksanaan impor, satu diantaranya kasus impor daging sapi.
kelas :1pa11
npm : 17513902
Ekonom Drajad Wibowo mengungkap beberapa contoh dari pengerukan uang haram pelaksanaan impor, satu diantaranya kasus impor daging sapi.
“Data-data yang saya kemukakan
berdasarkan laporan yang tidak dipublikasikan dari sebuah lembaga resmi
negara,” Drajad menegaskan dalam rilisnya kepada Tribunnews, Sabtu
(9/2/2013).
“Sama seperti mafia impor kedelai yang
pernah saya ungkap, impor daging sapi sebenarnya hanya dikuasai
segelintir pemain saja, tepatnya 12 pemain,” tambahnya.
Pemerintah cq Kementerian Pertanian,
lanjutnya, lalu seolah-olah akan mendobrak dominasi 12 pemain ini dengan
membuka sebanyak mungkin pemain baru. Faktanya, sebagian besar pemain
baru tersebut hanya berjualan ijin saja, atau hanya dipinjam sebagai
bendera, atau kalaupun benar-benar mengimpor, jumlahnya sangat kecil.
Itulah sebabnya mengapa mekanisme kuota
justru memudahkan pembagian uang haram. Pemain baru tersebut lebih
senang mengambil fee yang dihitung per kilogram daging. Tentu ada oknum
tertentu, dari parpol atau non-parpol, yang mem-back up pemain baru ini.
“Sementara ke-12 pemain tersebut tetap
juga mendapatkan kuota, namun harus membayar fee tertentu kepada mereka
yang membantu mendapatkan kuota,” ujar Drajad.
Dari mana mereka bisa menutup fee
tersebut? Drajad menjelaskan,pertama, dari pembebasan PPN. Dengan
berbagai alasan, mafia impor berhasil memperjuangkan pembebasan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) atas impor daging.
Akibatnya, selama periode Januari
2010-Juli 2011 negara kehilangan PPN sebesar Rp 546 milyar, hanya dari
daging sapi (termasuk jeroan).
“Berdasarkan data base Ditjen Bea cukai,
jumlah impor daging sapi tahun 2010 adalah sebanyak 90.541.414 kg daging
dan 49.599.762 kg jeroan/daging sisa. Jadi totalnya 140.141.176 kg,”
kata Drajad.
Untuk periode Januari-Jun 2011 jumlah
impornya 25.080.734 kg daging dan 16.398.425 kg jeroan/daging sisa.
Totalnya adalah 41.479.159 kg.
Jumlah PPN yang harus dibayar adalah Rp
548.803.681.353,00 atau Rp 548,8 milyar. Ini dibebankan kepeda 49
importir. Dari jumlah tersebut, yang dibayarkan kepada negara hanya Rp
2,8 milyar.
Sisanya yang Rp 546 milyar dibebaskan, sehingga menjadi tambahan keuntungan importir,” tegasnya.
Apakah rakyat Indonesia diuntungkan dari
pembebasan PPN ini? Ditegaskan Drajad, tidak sama sekali. Negara
kehilangan penerimaan, sementara rakyat tetap dibebani harga daging yang
melonjak-lonjak.
Yang unik, sambungnya lagi,jumlah
pembebasan PPN di atas ternyata setara dengan fee haram yang harus
dibayarkan importir kepada oknum-oknum yang “membantu” mereka.
Informasi yang beredar di lapangan, fee
tersebut besarnya Rp 5000 per kg daging dan Rp 2000 per kg jeroan/daging
sisa. Jika dikalikan data impor di atas, diperoleh angka sekitar Rp
452,5 milyar ditambah Rp 99 milyar, yaitu Rp 551,5 milyar.
“Dengan kata lain, bisa dikatakan fee
atau sebenarnya sogokan untuk oknum-oknum parpol dan non-parpol tersebut
dibiayai dari pembebasan PPN. Para penegak hukum sebaiknya mulai
menyelidiki dan menyidik pembebasan PPN ini,” Drajad mengharapkan.
Kedua, dari pemindahan klasifikasi antara
daging sapi dng jeroan/daging sisa. Importir harus membayar bea masuk
sebesar 5 persen terhadap nilai pabean dari barang yang diimpor. Nilai
paben dihitung berdasarkan harga CIF (cost, insurance and freight), atau
nilai patokan tertentu yg ditetapkan oleh Ditjen Bea Cukai.
Karena harga CIF jeroan/daging sisa lebih
rendah dari daging, importir yang nakal akan mengurangi kewajiban bea
masuknya dengan melaporkan seolah-olah dia mengimpor jeroan/daging sisa.
Padahal yang diimpor adalah daging.
Modus ini, katanya lagi, terbukti dalam
kasus 4 perusahaan importir, yaitu IGU, IP, SLP dan BMA. Ini setelah
laporan impor yang tercatat pd Ditjen BC (DJBC) dibandingkan dengan yang
tercatat pada Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian
Pertanian.
Selama periode Januari 2010-Juni 2011
diketahui jumlah impor daging keempat perusahaan tersebut adalah
13.453.271,13 kg (data DJBC), sementara data Barantan adalah
28.331.263,72 kg.
“Artinya, data impor daging di DJBC
ternyata 14,9 ribu ton lebih rendah dari data Barantan. Sementara untuk
impor jeroan/daging sisa, data DJBC sebesar 30.993.006,85 kg, sementara
data Barantan 7.841.980,59 kg. Artinya, data DJBC 23,2 ribu ton lebih
besar dari Barantan,” ungkapnya.
Karena harga CIF daging sapi lebih mahal dari jeroan/daging sisa, jelas negara kehilangan penerimaan bea masuk.
“Dokumen yang saya peroleh menyebutkan
negara kehilangan potensi penerimaan bea masuk, PPN dan PPh sebesar Rp
48,5 milyar. Angka tersebut baru untuk 4 importir,” tutur Drajad lagi.
Sebagai catatan, kode Harmonized System
(HS Code) untuk daging sapi adalah HS 0201 dan 0202. Sementara untuk
jeroan/daging sisa masuk HS 0206. Dan penegak hukum, imbuhnya, perlu
menyelidiki dan menyidik manipulasi data impor ini.
Sumber yang ketiga adalah permainan harga di pasar. Namun estimasinya jauh lebih sulit dilakukan.
Uraian ringkas di atas, Drajad
menegaskan, menunjukkan bahwa mafia impor daging bermain di semua lini,
dari hulu ke hilir untuk mengamankan permainannya. Dari Ragunan hingga
Lapangan Banteng. Dari formulasi kebijakan hingga hal-hal kecil seperti
pelaporan impor. Ini adalah ciri khas yang juga terdapat pada mafia
impor pangan lainnya.
“Pemindahan HS Code misalnya sulit bisa
dibayangkan bisa mulus terjadi tanpa kerjasama dengan oknum DJBC.
Bagaimana mungkin dengan segala peralatan yang canggih dan super mahal,
DJBC bisa kebobolan sebanyak itu hanya untuk 4 importir? Mengapa tidak
dilakukan cek silang dengan Barantan?” Drajad mempertanyakan.
“Yang jelas, dari semua permainan mafia
impor, ujung-ujungnya sama. Negara kehilangan potensi penerimaan, rakyat
dipermainkan oleh harga pangan yang melonjak-lonjak. Sementara para
pemain dan oknum yang mem-back up-nya memperoleh uang banyak dengan
mudah dalam waktu yang singkat,” pungkas Drajad Wibowo.
sumber:http://www.beritakaget.com/berita/5790/ekonom-drajad-wibowo-mengungkap-beberapa-contoh-dari-permainan-impor-daging-sapi.html
Selasa, 07 Januari 2014
tugas softskill 12 opini
nama: rizka septa anugrah
kelas:1pa11
npm :17513902
Jakarta (ANTARA News) - Perekonomian nasional pada 2013 bisa dikatakan tidak secerah tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya akibat faktor eksternal dan internal.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2013 mencapai 5,7 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2012 yang sebesar 6,3 persen.
Faktor eksternal yang mempengaruhi perekonomian Indonesia itu berupa ketidakpastian perekonomian global. Isu penghentian penggelontoran stimulus perekonomian AS oleh bank sentral AS, Federal Reserve, karena sejumlah indikator perekonomian menunjukkan perbaikan, menjadi salah satu penyebab ketidakpastian itu.
Banyak negara yang goyah atas kebijakan bank sentral AS itu. Indonesia menjadi salah satunya. Indonesia termasuk apa yang disebut Morgan Stanley sebagai "The Fragile Five" yakni lima negara yang paling rentan terkena kebijakan "tapering". Negara lain adalah Afrika Selatan, Brasil, India, dan Turki.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa The Fed dalam waktu dekat bakal pasti mengurangi kucuran dana sebesar 10 miliar dolar AS ke pasar keuangan negara itu dari sebelumnya sebesar 85 miliar dolar AS per bulan.
Mengapa Indonesia rentan terhadap kebijakan AS itu?
Ternyata, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini cukup tinggi yakni sekitar 6,2 persen dan dipuji dunia karena tingginya pertumbuhan itu ketika resesi dunia melanda, dibiayai oleh uang panas alias "hot money".
Uang panas yang gampang datang dan pergi itu berasal dari dana stimulus yang diluncurkan The Fed melalui kebijakan "Quantitative Easing" (QE). Dana tersebut mengalir ke Indonesia karena mampu memberi keuntungan paling besar.
Ketika isu "tapering" muncul, ekonomi Indonesia makin terpukul karena kondisi internal yang buruk berupa melemahnya ekspor Indonesia, yang selama ini didominasi ekspor sumber daya alam, dan meningkatnya impor yang didominasi jasa dan barang modal, telah menyebabkan terjadinya defisit transaksi berjalan .
Defisit ini akhirnya membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melorot. Hingga akhir tahun ini nilainya mencapai sekitar 12.200-an.
Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III 2013 sebesar 8,4 miliar dollar AS atau 3,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit transaksi berjalan ini menurun dibandingkan pada kuartal sebelumnya, yakni 9,9 miliar dollar AS atau 4,4 persen dari PDB.
Penurunan ini akibat peningkatan surplus neraca perdagangan non migas seiring dengan penurunan impor nonmigas yang lebih tajam dibandingkan penurunan ekspor nonmigas, serta berkurangnya defisit neraca jasa dan pendapatan.
Dengan adanya gambaran yang jelas tentang penyebab turunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerintah seharusnya menunjukkan upaya untuk segera memperbaiki defisit transaksi berjalan, khususnya bila "tapering" atau pengurangan stimulus terjadi.
Selama ini memang terlihat upaya mengurangi defisit transaksi berjalan baru dilaksanakan dari sisi moneter. Belum ada kebijakan sektor ril yang mendukungnya, meski pemerintah sudah mengeluarkan sejumlah paket kebijakan untuk mengurangi defisit itu pada Agustus lalu.
Kebijakan seperti pemberian insentif bagi perusahaan-perusahaan padat karya yang berorientasi ekspor, peningkatan pajak bagi impor kendaraan mewah dan pengurangan penggunaan BBM dengan mendorong peningkatan penggunaan biodiesel, sampai akhir tahun ini belum sepenuhnya direalisasikan.
Opini:benar-benar sangat di sayangkan ternyata perekonomian indonesia yang selama ini cukup tinggi di biayai oleh "uang panas". pemimpin negara harus mengambil tindakan tegas dengan kasus ini atau Indonesia akan bertambah kacau.
sumber:http://www.antaranews.com/berita/411488/ekonomi-indonesia-di-tengah-ketidakpastian
kelas:1pa11
npm :17513902
Jakarta (ANTARA News) - Perekonomian nasional pada 2013 bisa dikatakan tidak secerah tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya akibat faktor eksternal dan internal.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2013 mencapai 5,7 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2012 yang sebesar 6,3 persen.
Faktor eksternal yang mempengaruhi perekonomian Indonesia itu berupa ketidakpastian perekonomian global. Isu penghentian penggelontoran stimulus perekonomian AS oleh bank sentral AS, Federal Reserve, karena sejumlah indikator perekonomian menunjukkan perbaikan, menjadi salah satu penyebab ketidakpastian itu.
Banyak negara yang goyah atas kebijakan bank sentral AS itu. Indonesia menjadi salah satunya. Indonesia termasuk apa yang disebut Morgan Stanley sebagai "The Fragile Five" yakni lima negara yang paling rentan terkena kebijakan "tapering". Negara lain adalah Afrika Selatan, Brasil, India, dan Turki.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa The Fed dalam waktu dekat bakal pasti mengurangi kucuran dana sebesar 10 miliar dolar AS ke pasar keuangan negara itu dari sebelumnya sebesar 85 miliar dolar AS per bulan.
Mengapa Indonesia rentan terhadap kebijakan AS itu?
Ternyata, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini cukup tinggi yakni sekitar 6,2 persen dan dipuji dunia karena tingginya pertumbuhan itu ketika resesi dunia melanda, dibiayai oleh uang panas alias "hot money".
Uang panas yang gampang datang dan pergi itu berasal dari dana stimulus yang diluncurkan The Fed melalui kebijakan "Quantitative Easing" (QE). Dana tersebut mengalir ke Indonesia karena mampu memberi keuntungan paling besar.
Ketika isu "tapering" muncul, ekonomi Indonesia makin terpukul karena kondisi internal yang buruk berupa melemahnya ekspor Indonesia, yang selama ini didominasi ekspor sumber daya alam, dan meningkatnya impor yang didominasi jasa dan barang modal, telah menyebabkan terjadinya defisit transaksi berjalan .
Defisit ini akhirnya membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melorot. Hingga akhir tahun ini nilainya mencapai sekitar 12.200-an.
Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III 2013 sebesar 8,4 miliar dollar AS atau 3,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit transaksi berjalan ini menurun dibandingkan pada kuartal sebelumnya, yakni 9,9 miliar dollar AS atau 4,4 persen dari PDB.
Penurunan ini akibat peningkatan surplus neraca perdagangan non migas seiring dengan penurunan impor nonmigas yang lebih tajam dibandingkan penurunan ekspor nonmigas, serta berkurangnya defisit neraca jasa dan pendapatan.
Dengan adanya gambaran yang jelas tentang penyebab turunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerintah seharusnya menunjukkan upaya untuk segera memperbaiki defisit transaksi berjalan, khususnya bila "tapering" atau pengurangan stimulus terjadi.
Selama ini memang terlihat upaya mengurangi defisit transaksi berjalan baru dilaksanakan dari sisi moneter. Belum ada kebijakan sektor ril yang mendukungnya, meski pemerintah sudah mengeluarkan sejumlah paket kebijakan untuk mengurangi defisit itu pada Agustus lalu.
Kebijakan seperti pemberian insentif bagi perusahaan-perusahaan padat karya yang berorientasi ekspor, peningkatan pajak bagi impor kendaraan mewah dan pengurangan penggunaan BBM dengan mendorong peningkatan penggunaan biodiesel, sampai akhir tahun ini belum sepenuhnya direalisasikan.
Opini:benar-benar sangat di sayangkan ternyata perekonomian indonesia yang selama ini cukup tinggi di biayai oleh "uang panas". pemimpin negara harus mengambil tindakan tegas dengan kasus ini atau Indonesia akan bertambah kacau.
sumber:http://www.antaranews.com/berita/411488/ekonomi-indonesia-di-tengah-ketidakpastian
TUGAS SOFTSKILL 11 Opini
Jakarta (ANTARA
News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencabut Peraturan
Presiden (Perpres) Nomor 105 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan
Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu dan Perpres Nomor 106
tahun 2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga
Negara.
Alasan pencabutan Perpres itu, Presiden menilai, sudah tidak diperlukan lagi menyusul diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Badan Peyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Pencabutan atau pembatalan kedua Perpres tersebut disampaikan sendiri oleh Presiden SBY dalam keterangan persnya seusai rapat terbatas kabinet di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (30/12).
Ramainya penolakan dua Perpres tersebut membuat Presiden Yudhoyono mengambil sikap dengan membatalkan Perpres itu.
Rapat terbatas di Istana Bogor tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Boediono serta sejumlah menteri dan pejabat, diantaranya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto.
Juga hadir Menteri Kesehatan Nafsih Mboi, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin.
Sebelum dicabut, dua Perpres mendapat sorotan media mengingat para pejabat dinilai mendapatkan pelayanan asuransi kesehatan khusus dan istimewa, dikecualikan dalam program jaminan kesehatan BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial) bidang kesehatan yang akan di mulai 1 Januari 2014.
Opini : menurut saya, saya tidak setuju alasan di cabutnya undang" tersebut sudah sangat jelas pak presiden menilai sudah di perlukannya lagi hal itu, namun di lain pihak banyak pejabat juga yang masih menggunakan SJSN.
sumber:http://www.antaranews.com/berita/412573/pencabutan-perpres-demi-kesehatan-bersama
Alasan pencabutan Perpres itu, Presiden menilai, sudah tidak diperlukan lagi menyusul diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Badan Peyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Pencabutan atau pembatalan kedua Perpres tersebut disampaikan sendiri oleh Presiden SBY dalam keterangan persnya seusai rapat terbatas kabinet di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (30/12).
Ramainya penolakan dua Perpres tersebut membuat Presiden Yudhoyono mengambil sikap dengan membatalkan Perpres itu.
Rapat terbatas di Istana Bogor tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Boediono serta sejumlah menteri dan pejabat, diantaranya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto.
Juga hadir Menteri Kesehatan Nafsih Mboi, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin.
Sebelum dicabut, dua Perpres mendapat sorotan media mengingat para pejabat dinilai mendapatkan pelayanan asuransi kesehatan khusus dan istimewa, dikecualikan dalam program jaminan kesehatan BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial) bidang kesehatan yang akan di mulai 1 Januari 2014.
Opini : menurut saya, saya tidak setuju alasan di cabutnya undang" tersebut sudah sangat jelas pak presiden menilai sudah di perlukannya lagi hal itu, namun di lain pihak banyak pejabat juga yang masih menggunakan SJSN.
sumber:http://www.antaranews.com/berita/412573/pencabutan-perpres-demi-kesehatan-bersama
Jumat, 03 Januari 2014
Opini Tugas soft skill 10
Nama :Rizka Septa Anugrah
Kelas:1pa11
NPM:17513902
Pekan lalu jagad politik Indonesia tersentak
menyimak penangkapan Presiden Partai Keadialan Sejahtera (PKS), Lutfi
Hasan Ishaaq (LHI). Sosoknya dikenal sebagai ustad, ditengarai menjadi bagian suap, kolusi pengadaan impor daging. Sosialisasi awal, dia ditangkap tangan menerima uang. Faktanya, penangkapan terhadap oknum menjalin komunikasi dengan LHI. Ia diganti. Cigin pula penggantinya tahu-tahu Anis Matta, pria kelahiran 7 Desember 1968.
Bagi saya presiden kita 2014 nanti adalah sosok kelahiran tahun 60-70an. Bisa jadi usianya se-anis-matta. Akan tetapi apakah dia?
Kita butuh pemimpin muda baru demi menghindarkan diri gagal sebagai negara. Sosok muda itu mesti
cerdas hati dan cerdas sosial. Lebih jauh ia harus siap kere materi.
Kecerdasan hatinya mengantarnya selalu pada kebenaran. Kenyataan ini
kini minim, karena banyak sosok-sosok hebat di pasaran pintar-pintar tidak pada benar.
Itu penjabaran sosok direstui alam itu.
Pertanyaan ulang apakah Anis direstui alam itu?
Sepak terjang bersangkutan saya amati sejak reformasi. Termasuk dulu bagaimana ia bulak-balik ke kantornya Fuad Bawazier. Saya bersahabat dengan akuntan Fuad.
Sebagaimana ditulis indonesiatoday.com, mengutip TL saya di twitter 5 jam sebelum Anis terpilih: jika Anis
Matta naik jadi pimninan PKS, maka indikasi tangan Amerika Serikat
berada di belakang mentasnya. Mengapa? Sulit untuk menjelaskan hal ini
ke publik, karena dalam kapasitas saya sebagai private investigator dan jaringan kecil kami, Presstalk, mengindasikan kuat hal itu.
Bila ditelisik rentang usia, Anas Urbaningrum, masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat kini, setahun lebih muda dari Anis Matta. Anas lahir 15 Juli 1969. Lantas
berdasarkan usia apakah Anas presiden kita 2014? Saya tahu pasti bahwa
ia mengumpulkan energi untuk maju menjadi Capres 2014.
Justeru sosok yang layak disimak sebenarnya
seperti Ganang Soedirman, kelahiran 1966. Ganang, cucu pertama Panglima Besar
Soedirman itu, terpilih menjadi Presiden RI, tentu hanya atas polling di partaionline.org. Bagi mereka kenal Ganang, akan tampak penampilan sosok muda bersahaja, tidak pernah meninggalkan shalat. Ia pernah mengalami peristiwa mati suri dan hidup kembali, itulah menjadi alsannya tak lagi meninggalkan shalat.
Sosok berikutnya Komarudin Watubun. Pria kelahiran tahun sama dengan Anis Matta, 1968 di
Kepulauan Kei, Maluku Tenggara ini, adalah Wakil Ketua DPR Papua.
Dengan ditahannya Ketua DPR Papua kini, yakni Jhon Ibo, Komar - - begitu
ia disapa - - menjalankan fungsi ketua. Sosoknya bersahaja. Kendati di PDIP Pusat jabatannya Ketua
Bidang Organisasi dan Pemerintahan, setiap beranjangsana ke
daerah-daerah, ia tak pernah mau diberi pelayanan olah pengurus daerah.
Di Jayapura, Komar membiarkan
saja mobil dinas Camrynya masih berplastik. Ia tidak tinggal di rumah
dinas. Ia menetap di rumah papannya di dekat Danau Sentani. Dalam peretemanan
saya dengan Komar, saya mengetahui bagaimana alotnya pencalonan Jokowi
Widodo menjadi gubernur DKI lalu. Publik mafhum adanya bagaimana Taufik
Kiemas dan Megawati Soekarno Putri tidak mendukung pencalonan Jokowi.
Adalah Komarudin menggebrak. “Sosok Jokowi mesti tampil menjadi Gubernur DKI,” ujarnya. Maka tandatangan Komarudinlah bersama Sekjen Cahyo Kumolo mengantar pendaftaran Jokowi ke KPUD DKI Jakarta. Di mata subjektifitas saya, Komar sosok
tegas. Sangat memahami Trisakti Bung Karno: Berdaulat di bidang
Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi dan Berkepribadian di Bidang
Kebudayaan.
Berikutnya. Tentulah sosok layak tampil Jokowi Widodo sendiri. Pria kelahiran 1961 ini, kini sudah mentas sebagai
Gubernur DKI. Kita tentu tak perlu lagi membahasnya, karena hari-hari
berita ihwal dirinya, blusukan kiri-kanan menghiasi halaman media massa,
senantiasa.
Saya hanya memberikan catatan. Begini: Ketika
tak senagaja ikut mengantarkan ke KPUD DKI mendaftar sebagai Cagub DKI
lalu, usai acara kami berjalan
kaki dari KPUD, Jl Budi Kemuliaan,
Jakarta Pusat ke Bundaran HI. Publik
membuncah menyambut. Di depan Sarinah Jl. Thamrin, Jokowi pernah
bertanya ke saya, “Jika sambutan seperti ini tanda-tanda apa ya Mas
Iwan?”
Saya jawab kala itu dengan 6 kata: Bapak Guberenur, Bapak Gubernur, Bapak Presiden!
Apakah Jokowi akan jadi presiden kita 2014?
Ketika Jokowi
menyampaikan ke media soal endorsement-nya terhadap pembangunan 6 ruas
jalan tol dalam kota, saya kecewa. Dalam bayangan saya yang belum tentu
benar, seyogyanya Jokowi bisa berkata begini, “Sebagai Gubernur pilihan
rakyat DKI Jakarta, saya membatalkan pembangunan 6 ruas jalan tol di
Jakarta. Saya mempercepat pembangunan monorel, mempercepat pembangunan
subway dengan hitungan masuk akal.”
Aapakah Jokowi akan jadi presiden?
Saya sudah tak berani mempertanggung-jawabkan 6
kata saya di depan Sarinah itu. Terutama dua kata terakhir, Bapak
Presiden, tak lagi saya yakini.
Nah terakhir. Saya juga berusaha menemui Farhat Abbas sosok kelahiran 1976. Paling muda dari dari lima nama sudah
saya sebutkan di atas. Sosoknya banyak dihujat di media sosial karena
kata-katanya di twitter, “Apapun pelat mobilnya, Ahok tetap Cina.”
Saya simak hujatan kepadanya alang-kepalang. Saking miringnya dominan, warga
di media sosial menghujat Farhat, saya yang mencoba verifikasi
sosoknya, dihajar juga kiri kanan. Padahal sejatinya, ada satu sisi harus
dihormati dari pengacara ini. Terlepas dari kekurangannya: Dia berani
maju, tanpa embel-embel partai, berkata ke publik, “Saya Capres Muda
Indonesia 2014.” Dan dia melakukan intensi ke situ.
Saya tak melihat ada anak muda lain seberani Farhat.
Kedekatan saya ke Farhat lebih mendukung semangatnya itu. Lantas apakah Farhat bisa menjadi presiden RI?
Pertanyaan yang sama untuk ke-enam nama mereka
yang saya tuliskan tadi! Biarkanlah kecerdasan hati, kecerdasan sosial,
dan alam yang akan menjawab 2014 nanti. Tentu tanpa menafikan juga
nama-nama lain ada di seputar Anda sendiri, tentu!
OPINI: menurut saya seorang presiden tidak perlu tua ataupun muda asal dia bisa memenuhi semua kriteria yang di butuhkan sebagai seorang presiden, orang tersebut sudah sangat berarti, mengapa berarti ? karena sulit mencari presiden idaman di dunia ini
sumber: http://politik.kompasiana.com/2013/02/04/opini-mengayak-capres-muda-2014--531376.html
Langganan:
Postingan (Atom)