Nama : Rizka Septa Anugrah
Kelas : 3PA10
NPM: 17513902
Teknik – Teknik Yang
Digunakan Pada Terapi Psikoanalisis
Disini saya akan membahas tentang beberapa teknik psikologi
yang saya sukai diantaranya yaitu:
1.
Analisis
Mimpi
Analisis mimpi ditemukan oleh Freud
yang digunakan untuk mengubah muatan manifest pada mimpi menjadi muatan laten
yang lebih penting. Muatan manifest (manifest content) dari mimpi adalah makna
mimpi pada permukaaan atau deskripsi sadar yang disampaikan oleh orang yang
bermimpi, sedangkan muatan laten berarti hal hal yang tidak disadari.
Freud meyakini bahwa mimpi dibentuk
di alam tidak sadar, tetapi mencoba masuk ke alam sadar. Dalam menafsirkan
mimpi Freud biasanya meminta pasien mengaitkan mimpi dengan semua yang
berhubungan dengan mimpi tersebut.
2.
Asosiasi
Bebas
Teknik asosiasi bebas dilakukan
karena ada alasan, bahwa sering kali terjadi kegagalan pada saat terapis
berusaha untuk menghipnotis konseli. Dalam teknik ini yang pertama kali
dilakukan oleh terapis adalah meminta konseli untuk rileks atau duduk di kursi.
Konseli diminta untuk mengosongkan pikirannya dari kegiatan sehari-hari.
Kemudian konseli diminta untuk mengungkapkan apa saja yang lewat di benaknya pada saat itu juga. Apa pun yang direspon dalam pikiran nya itu harus dikatakan, walaupun apa yang dikatakannya itu menyakitkan, tidak logis, remeh, dan lain sebagainya.
3. Penafsiran
Kemudian konseli diminta untuk mengungkapkan apa saja yang lewat di benaknya pada saat itu juga. Apa pun yang direspon dalam pikiran nya itu harus dikatakan, walaupun apa yang dikatakannya itu menyakitkan, tidak logis, remeh, dan lain sebagainya.
3. Penafsiran
Penafiran merupakan suatu prosedur
dasar yang digunakan untuk mengadakan analisis terhadap teknik asosiasi bebas,
mimpi-mimpi, hambatan-hambatan, dan transferensi. Dalam penafsiran ini, terapi
mencoba untuk menerangkan tentang suatu kejadian atau tingkah laku yang
diwuudkan kedalam mimpi, hambatan-hambatan dan yang ditujukan kepada terapis
itu sendiri (transferensi).
Ada aturan main, bahwa penafsiran ini
harus dilakukan pada saat konseli sudah mulai masuk ke dalam alam sadar. menurut Corey (1986) sebaiknya dimulai pada
hal-hal yang bersifat tidak penting (surface) dan pada saatnya konseli telah
siap untuk membicarakan hal yang lebih dalam, maka konselor boleh untuk
menggali/mengeksplorasi permasalah konseli secara detail. Denga demikian, hal
ini berkaitan dengan waktu. Konselor sebaliknya memahami kesiapan konseli untuk
dapat masuk ke dalam permasalahannya.
Sekian dari saya kurang lebihnya saya minta maaf
Terima Kasih ^_^
link gambar: www.google.com
sumber: . Feist, J. & Feist., G.
(2010) Theories of Personality.
7th Edition. Boston: McGraw Hill
Hartono., Soedarmadji, Boy. (2012) Psikologi Konseling.
Edisi Revisi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
7th Edition. Boston: McGraw Hill
Hartono., Soedarmadji, Boy. (2012) Psikologi Konseling.
Edisi Revisi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group