UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
KESEHATAN MENTAL
Fenomena Child Abuse
DISUSUN OLEH :
RIZKA SEPTA ANUGRAH 17513902
2PA10
BAB
I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Anak merupakan tumpuan dan harapan orang tua. Anak jugalah
yang akan menjadi penerus bangsa ini. Sedianya, wajib dilindungi maupun
diberikan kasih sayang. Namun ternyata fakta berbicara lain. Maraknya kasus child abuse atau yang biasa disebut
kekerasan pada anak, sejak beberapa tahun ini seolah membalikkan pendapat bahwa
anak perlu dilindungi. Banyak anak yang menjadi korban kekerasan keluarga,
lingkungan maupun masyarakat.
Jenis kekerasan diterima oleh anak beragam, seperti
kekerasan verbal, fisik, mental maupun pelecehan seksual. Ironisnya pelaku
kekerasan terhadap anak biasanya adalah orang yang memiliki hubungan dekat
dengan si anak, seperti keluarga, guru ataupun teman sepermainannya sendiri.
Hal ini pun memicu trauma pada anak, misalnya menolak pergi ke sekolah setelah
tubuhnya dihajar ole gurunya sendiri.
Kondisi ini amatlah memprihatinkan, sudah melanda diseluruh
dunia. Tapi bukan berarti kita yang belum mempunyai anak harus berdiam diri
saja. Justru generasi pemuda atau orang-orang yang sadar akan kepentingan
perlindungan anak lah yang harus ikut berpartisipasi melalui atau tidak seperti
lembaga besar HAM untuk melindungi anak yang akan menjadi penerus bangsa ini
juga.
BAB
II. ISI
A. Penyebab Terjadinya Kekerasan
terhadap Anak
1.
Faktor keturunan, karena ada anak
yang hyperaktif, biasanya anak ini susah diatur dan cengeng, anak yang seperti
ini rentan untuk mengalami kekerasan fisik dan psikis.
2.
Adanya proses meniru hal yang
negatif berunsur kekerasan, seperti di video game, film, dan anak yang pernah
menjadi korban bullying biasanya rentan juga untuk melakukan atau menerima
tindakan kekerasan psikis dan fisik.
3.
Faktor Ekonomi, keluarga yang
ekonominya dibawah standar, rentan melakukan kekerasan kepada anak walaupun
tidak semuanya.
4.
Anak yang cacat mental, terlalu
lugu, biasanya juga mudah mengalami kekerasan walaupun tidak semuanya
5.
Keluarga yang belum matang secara
psikologis, ketidakmampuan mendidik anak
6.
Kurangnya pendidikan anak sehingga
anak terlalu lugu dan mudah dibohongi
7.
Broken Home,
keluarga yang sudah retak ini kadang sudah biasa untuk melakukan tindakan
kekerasan bukan hanya pada anak mungkin pada pasangannya sendiri.
8.
Perbedaan suku ras, tak jarang
perbedaan suku ini membuat para anak menjadi korban diskriminasi atau yang
lainnya lebih parah.
9.
Pergaulan dan lingkungan, faktor ini
yang bisa dibilang paling berpengaruh karena lingkungan sehari-hari merupakan
lingkungan yang paling diterima oleh anak, lingkungan juga membuat pembentukan
kepribadian anak.
B. Jenis-jenis Kekerasan yang Sering Diterima
Anak
1. Kekerasan fisik
Kekerasan yang dilakukan secara langsung dan mudah diketahui
oleh siapapun karena membekas pada tubuh seperti memar biru, luka bakar, dan
goresan benda tajam.
2.
Kekerasan psikis
Kekerasan
yang tidak terlihat dan biasanya sangat parah karena menyerang mental anak
secara langsung seperti contoh, anak menjadi pendiam, belajar rendah diri,
tidak bisa bangkit, dan hanya mampu iri.
3.
Kekerasan seksual
Bentuk
kekerasan ini kebanyakan dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban, seperti
guru atau teman. Dalam kekerasan ini anak akan mengalami trauma dan shock berat
oleh karena itu anak harus selalu dalam pengawasan, paling tidak diajarkan
untuk selalu berhati-hati.
4. Penelantaran
rumah tangga
Bentuk kekerasan yang dilakukan secara tidak langsung ini
dilakukan oleh orang terdekatnya, atau keluarga. Contoh anak yang ditelantarkan
oleh ibu dan bapaknya karena mereka terlalu sibuk oleh pekerjaannya. Dampak ini
sangat besar dalam pengembangan emosi anak jadi tidak bisa diremehkan.
C. Solusi Mencegah Terjadinya Kekerasan pada Anak
·
Orang tua menjaga agar anak-anak
tidak menonton / meniru adegan kekerasan karena bisa menimbulkan bahaya pada
diri mereka. Beri penjelasan pada anak bahwa adegan tertentu bisa membahayakan
dirinya. Luangkanlah waktu menemani anak menonton agar para orang tua tahu
tontonan tersebut buruk atau tidak untuk anak.
·
Jangan sering mengabaikan anak,
karena sebagian dari terjadinya kekerasan terhadap anak adalah kurangnya
perhatian terhadap anak. Namun hal ini berbeda dengan memanjakan anak.
·
Tanamkan sejak dini pendidikan agama
pada anak. Agama mengajarkan moral pada anak agar berbuat baik, hal ini
dimaksudkan agar anak tersebut tidak menjadi pelaku kekerasn itu sendiri.
·
Sesekali bicaralah secara terbuka
pada anak dan berikan dorongan pada anak agar bicara apa adanya/berterus
terang. Hal ini dimaksudkan agar orang tua bisa mengenal anaknya dengan baik
dan memberikan nasihat apa yang perlu dilakukan terhadp anak, karena banyak
sekali kekerasan pada anak terutama pelecehan seksual yang terlambat diungkap.
·
Ajarkan kepada anak untuk bersikap
waspada seperti jangan terima ajakan orang yang kurang dikenal dan lain-lain.
·
Sebaiknya orang tua juga bersikap
sabar terhadap anak. Ingatlah bahwa seorang anak tetaplah seorang anak yang
masih perlu banyak belajar tentang kehidupan dan karena kurangnya kesabaran
orang tua banyak kasus orang tua yang menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya
sendiri.
BAB
III. KESIMPULAN
Kekerasan pada anak dapat ditemukan diberbagai daerah
atau Negara sekalipun. Kekerasan tersebut memiliki jenis dan faktor penyebabnya
sendiri. Dari penyebabnya tersebut dapat dilihat kekerasan pada anak banyak
dilakukan oleh orang tuanya sendiri, mulai dari faktor ekonomi, faktor belum
mampu mengurus anak, bahkan sampai orang tua yang menelantarkan anak.
Sebagai psikolog tentunya melihat hal ini sudah kewajiban
kita untuk membantu dalam memecahkan masalah ini. Jika dilihat peran lingkungan
dan keluarga sangat berdampak besar, sebisa mungkin orang tua harus bersabar
kepada putra-putrinya, dan meminimalisir sesuatu yang bisa berdampak negative
jika kelebihan seperti video game, kemudian memberikan pembelajaran dalam
bersosialisasi juga anak harus tetap di pantau di lingkungannya karena
lingkungan sangat berpengaruh pada anak tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Papalia, Diane, E.
Feldmen, Ruth Duskin. (2012). Experience
Human
Development. New York:
McGraw-Hill
Heru, Basuki,.A,.M.
(2008). Psikologi
Umum. Jakarta: Gunadarma