Dari : Situs Alfi

Selasa, 28 April 2015

Tugas 2 kesehatan mental kaitannya dengan social support

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI

http://afrizaprihadi.files.wordpress.com/2012/09/logo_gunadarma1.jpg

KESEHATAN MENTAL

Hubungan Kesehatan Mental dengan Social Support





DISUSUN OLEH :

RIZKA SEPTA ANUGRAH                      17513902
2PA10


Seperti yang sudah diketahui Kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Oleh karena itu kesehatan mental adalah hal yang sangat mahal dan mewah karena kesehatan mental tersebut lebih berharga dari apapun atau uang sekalipun. Kesehatan mental sendiri jika dikaitkan dengan social support sebagai berikut.
Social Support sangat dibutuhkan oleh seluruh manusia, dengan adanya social support, seseorang dapat memenuhi kebutuhan individu sehingga tidak merasa sendirian, ada orang lain yang terus mendukung seluruh usaha dan kerja kerasnya. Social support juga berkaitan dengan suatu kelompok, suatu individu akan mencari kelompok yang merasa koheren dengannya, dengan begitu individu tersebut merasa diterima oleh masyarakat.
Adapun kesehatan mental yang jika dikaitkan dengan social support, yaitu dengan melihat tingkat stress seseorang. Seseorang yang rentan mengalami stress, dan depresi berarti bisa dibilang social supportnya rendah. Akan tetapi ada bukti melalui sebuah penelitian individu yang memiliki teman-teman yang akrab sangat kurang mengalami depresi jika mereka sedang stress. Namun perlu diperhatikan juga bahwa tidak hanya banyaknya teman yang dimiliki individu yang akan mempengaruhi kemungkinan depresi, tetapi yang terpenting adalah kualitas dari hubungan tersebut.
Bisa disimpulkan individu yang memiliki social support yang tinggi akan terjaga kesehatan mentalnya karena mereka lebih percaya diri, dan tidak rentan mengalami stress dan depresi. Individu tersebut akan lebih mudah mengekspresikan dirinya, dengan lingkungannya. Biasanya juga individu tersebut akan memiliki tingkat kognitif yang tinggi sehingga bisa berfikir dengan bagus secara kognitif atau abstrak. Bukan hanya itu jika kesehatan mental individu itu terjaga, maka individu tersebut pasti lebih mudah dalam mengatur seluruh emosinya dengan baik dan benar.






DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, Sarlito, W. Meinarno, Eko,A. (2009). Psikologi Sosial.
Jakarta: Salemba Humanika
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 2.

            Yogyakarta: Kanisius

Tugas 1 fenomena child abuse


UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI

http://afrizaprihadi.files.wordpress.com/2012/09/logo_gunadarma1.jpg

KESEHATAN MENTAL

Fenomena Child Abuse





DISUSUN OLEH :

RIZKA SEPTA ANUGRAH                      17513902
2PA10










BAB I. PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Anak merupakan tumpuan dan harapan orang tua. Anak jugalah yang akan menjadi penerus bangsa ini. Sedianya, wajib dilindungi maupun diberikan kasih sayang. Namun ternyata fakta berbicara lain. Maraknya kasus child abuse atau yang biasa disebut kekerasan pada anak, sejak beberapa tahun ini seolah membalikkan pendapat bahwa anak perlu dilindungi. Banyak anak yang menjadi korban kekerasan keluarga, lingkungan maupun masyarakat.
Jenis kekerasan diterima oleh anak beragam, seperti kekerasan verbal, fisik, mental maupun pelecehan seksual. Ironisnya pelaku kekerasan terhadap anak biasanya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan si anak, seperti keluarga, guru ataupun teman sepermainannya sendiri. Hal ini pun memicu trauma pada anak, misalnya menolak pergi ke sekolah setelah tubuhnya dihajar ole gurunya sendiri.
Kondisi ini amatlah memprihatinkan, sudah melanda diseluruh dunia. Tapi bukan berarti kita yang belum mempunyai anak harus berdiam diri saja. Justru generasi pemuda atau orang-orang yang sadar akan kepentingan perlindungan anak lah yang harus ikut berpartisipasi melalui atau tidak seperti lembaga besar HAM untuk melindungi anak yang akan menjadi penerus bangsa ini juga. 









BAB II. ISI
A. Penyebab Terjadinya Kekerasan terhadap Anak
1.      Faktor keturunan, karena ada anak yang hyperaktif, biasanya anak ini susah diatur dan cengeng, anak yang seperti ini rentan untuk mengalami kekerasan fisik dan psikis.
2.      Adanya proses meniru hal yang negatif berunsur kekerasan, seperti di video game, film, dan anak yang pernah menjadi korban bullying biasanya rentan juga untuk melakukan atau menerima tindakan kekerasan psikis dan fisik.
3.      Faktor Ekonomi, keluarga yang ekonominya dibawah standar, rentan melakukan kekerasan kepada anak walaupun tidak semuanya.
4.      Anak yang cacat mental, terlalu lugu, biasanya juga mudah mengalami kekerasan walaupun tidak semuanya
5.      Keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidakmampuan mendidik anak
6.      Kurangnya pendidikan anak sehingga anak terlalu lugu dan mudah dibohongi
7.      Broken Home, keluarga yang sudah retak ini kadang sudah biasa untuk melakukan tindakan kekerasan bukan hanya pada anak mungkin pada pasangannya sendiri.
8.      Perbedaan suku ras, tak jarang perbedaan suku ini membuat para anak menjadi korban diskriminasi atau yang lainnya lebih parah.
9.      Pergaulan dan lingkungan, faktor ini yang bisa dibilang paling berpengaruh karena lingkungan sehari-hari merupakan lingkungan yang paling diterima oleh anak, lingkungan juga membuat pembentukan kepribadian anak.

B. Jenis-jenis Kekerasan yang Sering Diterima Anak
  1. Kekerasan fisik
Kekerasan yang dilakukan secara langsung dan mudah diketahui oleh siapapun karena membekas pada tubuh seperti memar biru, luka bakar, dan goresan benda tajam.
2.    Kekerasan psikis

Kekerasan yang tidak terlihat dan biasanya sangat parah karena menyerang mental anak secara langsung seperti contoh, anak menjadi pendiam, belajar rendah diri, tidak bisa bangkit, dan hanya mampu iri.  


3.      Kekerasan seksual

Bentuk kekerasan ini kebanyakan dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban, seperti guru atau teman. Dalam kekerasan ini anak akan mengalami trauma dan shock berat oleh karena itu anak harus selalu dalam pengawasan, paling tidak diajarkan untuk selalu berhati-hati.
        4. Penelantaran rumah tangga
Bentuk kekerasan yang dilakukan secara tidak langsung ini dilakukan oleh orang terdekatnya, atau keluarga. Contoh anak yang ditelantarkan oleh ibu dan bapaknya karena mereka terlalu sibuk oleh pekerjaannya. Dampak ini sangat besar dalam pengembangan emosi anak jadi tidak bisa diremehkan.

C. Solusi Mencegah Terjadinya Kekerasan pada Anak
·      Orang tua menjaga agar anak-anak tidak menonton / meniru adegan kekerasan karena bisa menimbulkan bahaya pada diri mereka. Beri penjelasan pada anak bahwa adegan tertentu bisa membahayakan dirinya. Luangkanlah waktu menemani anak menonton agar para orang tua tahu tontonan tersebut buruk atau tidak untuk anak.

·      Jangan sering mengabaikan anak, karena sebagian dari terjadinya kekerasan terhadap anak adalah kurangnya perhatian terhadap anak. Namun hal ini berbeda dengan memanjakan anak.

·      Tanamkan sejak dini pendidikan agama pada anak. Agama mengajarkan moral pada anak agar berbuat baik, hal ini dimaksudkan agar anak tersebut tidak menjadi pelaku kekerasn itu sendiri.

·      Sesekali bicaralah secara terbuka pada anak dan berikan dorongan pada anak agar bicara apa adanya/berterus terang. Hal ini dimaksudkan agar orang tua bisa mengenal anaknya dengan baik dan memberikan nasihat apa yang perlu dilakukan terhadp anak, karena banyak sekali kekerasan pada anak terutama pelecehan seksual yang terlambat diungkap.

·      Ajarkan kepada anak untuk bersikap waspada seperti jangan terima ajakan orang yang kurang dikenal dan lain-lain.
·      Sebaiknya orang tua juga bersikap sabar terhadap anak. Ingatlah bahwa seorang anak tetaplah seorang anak yang masih perlu banyak belajar tentang kehidupan dan karena kurangnya kesabaran orang tua banyak kasus orang tua yang menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya sendiri.





BAB III. KESIMPULAN

            Kekerasan pada anak dapat ditemukan diberbagai daerah atau Negara sekalipun. Kekerasan tersebut memiliki jenis dan faktor penyebabnya sendiri. Dari penyebabnya tersebut dapat dilihat kekerasan pada anak banyak dilakukan oleh orang tuanya sendiri, mulai dari faktor ekonomi, faktor belum mampu mengurus anak, bahkan sampai orang tua yang menelantarkan anak.

            Sebagai psikolog tentunya melihat hal ini sudah kewajiban kita untuk membantu dalam memecahkan masalah ini. Jika dilihat peran lingkungan dan keluarga sangat berdampak besar, sebisa mungkin orang tua harus bersabar kepada putra-putrinya, dan meminimalisir sesuatu yang bisa berdampak negative jika kelebihan seperti video game, kemudian memberikan pembelajaran dalam bersosialisasi juga anak harus tetap di pantau di lingkungannya karena lingkungan sangat berpengaruh pada anak tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Papalia, Diane, E. Feldmen, Ruth Duskin. (2012). Experience Human
 Development. New York: McGraw-Hill
Heru, Basuki,.A,.M. (2008). Psikologi
 Umum. Jakarta: Gunadarma


Ariany, Tri. 2013, “Faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak oleh orang tua dalam rumah tangga di tinjau dari kriminologi di kota Pontianak”. Jurnal untan. Volume 1, No. 2, http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmfh/article/view/2193, 21 April 2015.