1Nama : Rizka Septa Anugrah
Kelas: 1PA11
NPM: 175139092
Thomas Aquinas
(1225-1274)
Riwayat Hidup Singkat.
Thomas Aquinas, dilahirkan di Roccasecca, Italia, dekat Napels. Thomas
berasal dari keluarga bangsawan Aristokrat pada tahun 1225 M. Thomas merupakan
murid Albertus Magnus. Awalnya Thomas belajar di Napels, kemudian Paris,
menjadi murid Albertus, lalu di Koln, dan kemudian di paris lagi. Thomas
mendapat gelar Angelic Doctor, karena banyak pemikirannya, terutama di dalam Summa Theologia buku karya Thomas yang terkenal.
Menurutnya pengetahuan di peroleh melalui indra dan diolah dengan akal. Setelah
belajar empat tahun di Cologne, Thomas mengambil sekali lagi gelar doctor di
Paris. Selama di Paris tersebut, dia menulis dua risalah filsafat: De Ente et Essentia dan De Principiis Naturae dan sebagian komentarnya pada buku the Sentences.
Thomas Aquinas mendapat julukan “Raja Skolastik Eropa
Kristen”, karena selain Augustinus peletak dasar intelektual pemikiran
Kristiani Eropa Abad Tengah, pemikiran Thomas mampu bertahan selama berabad-abad.
Sebagai seorang teolog doktrin-doktrin Kristiani. Thomas menghadapi berbagai
persoalan-persoalan sosial politik, karenanya ia membahas dan melahirkan
pemikiran tentang hukum, Negara dan kekuasaan politik. Namun Pada tahun 1274 Thomas tiba – tiba sakit kemudian, meninggal
dalam usia 48 tahun.
2. Karya-karya.
a.
Summa Theologiae,(1273),
tentang sintesis dari filsafat Aristoteles dan ajaran di lingkungan katolik.
b. Summa contra
gentiles,(1260), tentang ikhtisar
melawan orang – orang kafir.
c.
De ente et essential,(1250), tentang “pengada” dan hakikat metafisika yang di maksud “ada”,
dan “hakikat”.
3. Ajaran
a.
Bukti Adanya
Tuhan (Quinquae Viae)
Thomas mengajarkan Allah
sebagai “Ada yang tak terbatas” (Ipsum esse subsistens). Allah adalah “zat yang
tertinggi”, yang mempunyai keadaan yang paling tinggi Allah adalah penggerak
yang tidak bergerak.
Manusia dapat mengenal Allah dengan menggunakan rasio
(akal budi). Tetapi, pengenalan itu berlangsung hanya melalui ciptaan-ciptaan.
Thomas membuktikan adanya Allah melalui rangkaian argumentasi yang dikenal
dengan Quinquae Viae (Lima Jalan). Adanya Allah dapat dibuktikan dengan lima
hal berikut:
-
Gejala adanya
perubahan atau gerak. Di dunia terdapat perubahan atau gerak. Apa saja yang
bergerak digerakkan oleh suatu yang lain. Tidak mungkin seluruh rangkaian itu
hanya merupakan perantara. Harus ada suatu yang menjadi penggerak awal, yang
tidak digerakan oleh suatu yang lain. Penggerak yang tidak digerakkan itu
adalah Allah.
-
Gejala sebab dan
akibat. Kita menyaksikan kejadian-kejadian, dan menjelaskannya dengan menyebut
sebab-sebabnya. Penjelasan itu tak akan rampung kalau hanya ada sebab-sebab
antara. Oleh sebab itu harus ada suatu penyebab pertama yang merupakan sumber
segala kejadian. Penyebab pertama ini adalah Allah.
-
Gejala kontingensi.
Di dunia ini kita menyaksikan bahwa segalanya adalah bersifat kontingen atau
sementara. Artinya, bisa ada bisa juga tidak ada. Jika segalanya kontingen, dan
jika seri waktu-waktu yang telah berlalu adalah seri tak terbatas, seharusnya
ada waktu di mana hal-hal ini berlalu secara serentak, tanpa meninggalkan
apa-apa lagi. Tetapi karena kita tidak dapat memperoleh sesuatu dari tiada, sekarang
seharusnya adalah tiada. Tetapi bukan demikian yang terjadi. Oleh sebab itu,
tidak semuanya kontingen. Harus ada suatu yang niscaya. Apa yang niscaya itu
kita namakan Allah.
-
Adanya hirarki
kesempurnaan. Dari pengalaman kita mengetahui bahwa ada tingkat-tingkat
kebenaran, kebaikan, keluhuran, keindahan. Tapi supaya penilaian ini masuk
akal, harus ada suatu kesempurnaan tertinggi. Kesempurnaan tertinggi itulah
yang dinamakan Allah.
-
Finalitas dunia.
Semua yang ada di dunia mengarah kepada tujuan tertentu (telos). Benda-benda
tak bernyawa tak dapat mengarahkan dirinya kepada tujuan tersebut. Seperti
panah yang harus diarahkan oleh pemanah, dunia haruslah diarahkan oleh suatu
intelijen tertinggi. Intelijen tertinggi ini adalah Allah.
b. Manusia.
Thomas sependapat
dengan Aristoteles bahwa manusia adalah bagian integral dari alam (man is an integral part of nature).
Karenanya manusia tergantung dan membutuhkan sesamanya dan berbagai subtansi
alam: hewan, tumbuhan, mineral, lautan, udara, dan lain – lain. Yang berada di
atas bumi.
Manusia sederajat
(equal) dengan manusia lainnya sejak manusia dilahirkan. Kesamaan derajat ini
menurut Thomas berkonotasi Teologis yaitu semua manusia sederajat bila di
hadapan Tuhan.
Thomas
mengklasifikasi manusia menjadi tiga kategori yaitu:
1. Man – the substance: manusia memiliki watak ingin
memiliki segala sesuatu yang membuatnya bahagia.
2. Man – the animal: manusia mempunyai kecenderungan hewani,
kejam, tamak, rakus, suka membunuh dan menghianati terhadap sesamanya.
3. Man – the moral agent: memiliki watak cinta kebenaran,
kebaikan dan saling mencintai sesama manusia dan isi alam lainnya. Ia memiliki
sifat konstruktif dan positif dari segi moralitas.
Manusia terdiri
dari jiwa dan tubuh. Jiwa itu merupakan forma sedangkan tubuh ada materinya.
Kedua unsur tersebut tak dapat di pisahkan. Keduanya merupakan satu subtansi.
Jiwa yang menjalankan aktivitas-aktivitas yang lebih tinggi dari aspek
badaniah, yakni kegiatan berfikir dan berkehendak. Menurut Thomas, Jiwa
bersifat kekal. Pada saat kematian, tubuh hancur, tetapi jiwa hidup terus.
c.
Penciptaan.
Allah adalah
penguasa alam semesta dan karena kekuasaan-Nya, Allah dapat menciptakan
segalanya. Eternal law adalah kebijaksanaan dan akal budi abadi Tuhan. Hukum
ini beroperasi pada alam semesta yang merupakan ciptaan Tuhan antara lain:
Air mengalir, angin
berhembus, gunung meletus, manusia lahir,berkembang, dan kemudian mati,
merupakan tanda-tanda beroperasinya hukum abadi dalam jagad raya. Oleh karena
jagat raya di ciptakan Allah, maka jagat raya bukan Allah, sekalipun memang
mendapat bagian dari “ada” Allah.
Menurut Thomas:
Penciptaan adalah
suatu perbuatan Allah yang terus menerus, dengannya Ia terus menerus
menghasilkan dan memelihara segala yang bersifat sementara.
Allah menciptakan
dunia dari ketiadaan (creation
ex nihilo).
Artinya, Allah menciptakan dunia tanpa menggunakan bahan dasar, dan adanya
ciptaan bergantung seluruhnya kepada Allah. Penciptaan tidak terbatas pada
suatu waktu saja, tetapi berlangsung terus-menerus. Ciptaan berpartisipasi
dalam adanya Allah.
Sumber
:
1. Blikolong, J.B. (1997) Pengantar Filsafat Seri
Diktat Kuliah. Gunadarma : Depok
2. Budiyono, Kabul. (2012) Teori dan Filsafat Ilmu
Politik. Alfabeta : Bandung
3. Syam, Nina. (2010)
Filsafat sebagai akar Komunikasi. Simbiosa
Rekatama Media : Bandung
4. Hardiwijono, (1991) Sari
Sejarah Filsafat Barat 1. Kanisius : Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar