Dari : Situs Alfi

Jumat, 22 November 2013

Tugas soft skill 8



1Nama : Rizka Septa Anugrah
  Kelas: 1PA11
  NPM: 175139092
  
 



Thomas Aquinas
(1225-1274)







Riwayat Hidup Singkat.

Thomas Aquinas, dilahirkan di Roccasecca, Italia, dekat Napels. Thomas berasal dari keluarga bangsawan Aristokrat pada tahun 1225 M. Thomas merupakan murid Albertus Magnus. Awalnya Thomas belajar di Napels, kemudian Paris, menjadi murid Albertus, lalu di Koln, dan kemudian di paris lagi. Thomas mendapat gelar Angelic Doctor, karena banyak pemikirannya, terutama di dalam Summa Theologia buku karya Thomas yang terkenal. Menurutnya pengetahuan di peroleh melalui indra dan diolah dengan akal. Setelah belajar empat tahun di Cologne, Thomas mengambil sekali lagi gelar doctor di Paris. Selama di Paris tersebut, dia menulis dua risalah filsafat: De Ente et Essentia dan De Principiis Naturae dan sebagian komentarnya pada buku the Sentences.

Thomas Aquinas mendapat julukan “Raja Skolastik Eropa Kristen”, karena selain Augustinus peletak dasar intelektual pemikiran Kristiani Eropa Abad Tengah, pemikiran Thomas mampu bertahan selama berabad-abad. Sebagai seorang teolog doktrin-doktrin Kristiani. Thomas menghadapi berbagai persoalan-persoalan sosial politik, karenanya ia membahas dan melahirkan pemikiran tentang hukum, Negara dan kekuasaan politik. Namun Pada tahun 1274  Thomas tiba – tiba sakit kemudian, meninggal dalam usia 48 tahun.


2.  Karya-karya.

a.   Summa Theologiae,(1273), tentang sintesis dari filsafat Aristoteles dan ajaran di lingkungan katolik.
b.  Summa contra gentiles,(1260), tentang ikhtisar melawan orang – orang kafir.
c.   De ente et essential,(1250), tentang “pengada” dan hakikat metafisika yang di maksud “ada”, dan “hakikat”.
3.  Ajaran

a.   Bukti Adanya Tuhan (Quinquae Viae)

Thomas mengajarkan Allah sebagai “Ada yang tak terbatas” (Ipsum esse subsistens). Allah adalah “zat yang tertinggi”, yang mempunyai keadaan yang paling tinggi Allah adalah penggerak yang tidak bergerak.
Manusia dapat mengenal Allah dengan menggunakan rasio (akal budi). Tetapi, pengenalan itu berlangsung hanya melalui ciptaan-ciptaan. Thomas membuktikan adanya Allah melalui rangkaian argumentasi yang dikenal dengan Quinquae Viae (Lima Jalan). Adanya Allah dapat dibuktikan dengan lima hal berikut:
-     Gejala adanya perubahan atau gerak. Di dunia terdapat perubahan atau gerak. Apa saja yang bergerak digerakkan oleh suatu yang lain. Tidak mungkin seluruh rangkaian itu hanya merupakan perantara. Harus ada suatu yang menjadi penggerak awal, yang tidak digerakan oleh suatu yang lain. Penggerak yang tidak digerakkan itu adalah Allah.

-     Gejala sebab dan akibat. Kita menyaksikan kejadian-kejadian, dan menjelaskannya dengan menyebut sebab-sebabnya. Penjelasan itu tak akan rampung kalau hanya ada sebab-sebab antara. Oleh sebab itu harus ada suatu penyebab pertama yang merupakan sumber segala kejadian. Penyebab pertama ini adalah Allah.

-     Gejala kontingensi. Di dunia ini kita menyaksikan bahwa segalanya adalah bersifat kontingen atau sementara. Artinya, bisa ada bisa juga tidak ada. Jika segalanya kontingen, dan jika seri waktu-waktu yang telah berlalu adalah seri tak terbatas, seharusnya ada waktu di mana hal-hal ini berlalu secara serentak, tanpa meninggalkan apa-apa lagi. Tetapi karena kita tidak dapat memperoleh sesuatu dari tiada, sekarang seharusnya adalah tiada. Tetapi bukan demikian yang terjadi. Oleh sebab itu, tidak semuanya kontingen. Harus ada suatu yang niscaya. Apa yang niscaya itu kita namakan Allah.

-     Adanya hirarki kesempurnaan. Dari pengalaman kita mengetahui bahwa ada tingkat-tingkat kebenaran, kebaikan, keluhuran, keindahan. Tapi supaya penilaian ini masuk akal, harus ada suatu kesempurnaan tertinggi. Kesempurnaan tertinggi itulah yang dinamakan Allah.

-     Finalitas dunia. Semua yang ada di dunia mengarah kepada tujuan tertentu (telos). Benda-benda tak bernyawa tak dapat mengarahkan dirinya kepada tujuan tersebut. Seperti panah yang harus diarahkan oleh pemanah, dunia haruslah diarahkan oleh suatu intelijen tertinggi. Intelijen tertinggi ini adalah Allah.


b.   Manusia.

Thomas sependapat dengan Aristoteles bahwa manusia adalah bagian integral dari alam (man is an integral part of nature). Karenanya manusia tergantung dan membutuhkan sesamanya dan berbagai subtansi alam: hewan, tumbuhan, mineral, lautan, udara, dan lain – lain. Yang berada di atas bumi.

Manusia sederajat (equal) dengan manusia lainnya sejak manusia dilahirkan. Kesamaan derajat ini menurut Thomas berkonotasi Teologis yaitu semua manusia sederajat bila di hadapan Tuhan.
Thomas mengklasifikasi manusia menjadi tiga kategori yaitu:

1.  Man – the substance: manusia memiliki watak ingin memiliki segala sesuatu yang membuatnya bahagia.
2.  Man – the animal: manusia mempunyai kecenderungan hewani, kejam, tamak, rakus, suka membunuh dan menghianati terhadap sesamanya.
3.  Man – the moral agent: memiliki watak cinta kebenaran, kebaikan dan saling mencintai sesama manusia dan isi alam lainnya. Ia memiliki sifat konstruktif dan positif dari segi moralitas.

Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Jiwa itu merupakan forma sedangkan tubuh ada materinya. Kedua unsur tersebut tak dapat di pisahkan. Keduanya merupakan satu subtansi. Jiwa yang menjalankan aktivitas-aktivitas yang lebih tinggi dari aspek badaniah, yakni kegiatan berfikir dan berkehendak. Menurut Thomas, Jiwa bersifat kekal. Pada saat kematian, tubuh hancur, tetapi jiwa hidup terus.


c.   Penciptaan.

Allah adalah penguasa alam semesta dan karena kekuasaan-Nya, Allah dapat menciptakan segalanya. Eternal law adalah kebijaksanaan dan akal budi abadi Tuhan. Hukum ini beroperasi pada alam semesta yang merupakan ciptaan Tuhan antara lain:

Air mengalir, angin berhembus, gunung meletus, manusia lahir,berkembang, dan kemudian mati, merupakan tanda-tanda beroperasinya hukum abadi dalam jagad raya. Oleh karena jagat raya di ciptakan Allah, maka jagat raya bukan Allah, sekalipun memang mendapat bagian dari “ada” Allah.
Menurut Thomas:

Penciptaan adalah suatu perbuatan Allah yang terus menerus, dengannya Ia terus menerus menghasilkan dan memelihara segala yang bersifat sementara.

Allah menciptakan dunia dari ketiadaan (creation
ex nihilo). Artinya, Allah menciptakan dunia tanpa menggunakan bahan dasar, dan adanya ciptaan bergantung seluruhnya kepada Allah. Penciptaan tidak terbatas pada suatu waktu saja, tetapi berlangsung terus-menerus. Ciptaan berpartisipasi dalam adanya Allah.




Sumber :
1.  Blikolong, J.B. (1997) Pengantar Filsafat Seri Diktat Kuliah. Gunadarma : Depok
2.  Budiyono, Kabul. (2012) Teori dan Filsafat Ilmu Politik. Alfabeta : Bandung
3.  Syam, Nina. (2010) Filsafat sebagai akar Komunikasi. Simbiosa Rekatama Media : Bandung  
4.  Hardiwijono, (1991) Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Kanisius : Yogyakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar