Nama : Rizka Septa Anugrah
Kelas : 1PA11
NPM : 17513902
PEMBOHONG SEJATI
Pada suatu hari ada seorang anak bernama
Jukun, dia tinggal di sebuah Gunung merapi yang jarang aktif. Ayahnya adalah
seorang kuncen penjaga Gunung tersebut, dia yang bertanggung jawab jika ada
tanda – tanda gunung akan meletus.
Pada
suatu hari Ayahnya ditugaskan oleh kepala desa untuk mengecek keadaan gunung
tersebut, dia pun mengajak sang anak untuk membantunya, sesampai disana
ternyata keadaan mulut gunung baik – baik saja, tidak ada aktivitas yang bisa
mengguncangkan desa mereka.
Ke
esokan harinya Jukun merasa sangat bosan karena sang ayah sedang jatuh sakit
dia pun di suruh oleh sang ayah untuk memeriksa keadaan gunung tersebut kembali
sendirian.
Sesampainya
di sana keadaan gunung baik – baik saja. Jukun bosan dia selalu melakukan ini,
pada akhirnya dia memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk membuat rasa
bosannya hilang.
“Hei teman –
teman , Gawat,….!!!” Kata Jukun turun dari bawah gunung dengan bergeleser.
“ada apa kun ?
kok sepertinya kamu takut seperti itu”
“gawat….. gunung
akan segera meletus” sontak saja ke tiga temannya langsung bangun terkejut
“ apa benar yang
kamu bicarakan ini kun?”
“tentu saja ,
tadi kepala desa menyuruhku untuk memeriksa gunung, dan ternyata lahar magma
nya sudah naik”
“gawat para
orang dewasa disini sedang pergi berburu, hanya kita saja yang bisa menyelamatkan
desa ini” kata teman jukun
“kalau begitu
ayo siapkan peralatan kita harus membuat tanggul yang besar untuk menahan lahar
yang masuk ke desa”
“Jukun kamu diam
saja disini menjaga keadaan, kamu sepertinya lelah telah naik turun bukit”
“baik……” kata
Jukun berpura-pura kelelahan
Setelah beberapa
saat, teman – teman Jukun pun sudah datang membawa peralatan.
“ dimana Jukun?”
“entahlah,
sepertinya mungkin dia sedang mengambil peralatan juga”
“ayo cepat kita
buat tanggul terlebih dahulu sebelum laharnya datang”
Merekapun membuat
tanggul dengan lihai, sudah dua jam berlalu Jukun tidak datang ,dan perasaan
mereka semakin berdebar-debar karena tanggul yang mereka buat masih sangat
kecil untuk menahan Lahar.
“Hei,… apa yang
kalian lakukan ?” tiba – tiba Jukun sedang berada di atas pohon pisang
“Jukun, cepat
kemari bantu kami”
“ untuk apa?” Tanya
Jukun
“ tentu saja
untuk membuat tanggul, lahar pasti sebentar lagi datang”
“
hahahahahahaha,… lahar tidak akan datang” kata jukun
“apa maksudmu?,
kau bilang tadi lahar sudah naik dari mulut gunung”
“hahahahahaha,….
Aku hanya bergurau, tak kusangka kalian bisa tertipu seperti itu”
“Apa maksudmu? Kau
menipu kita semua kun!” salah satu teman Jukun Emosi
“turun kau Jukun
kalau berani! Biar ku beri pelajaran”
“sudahlah, kita
tinggalkan saja anak seperti itu”
Mereka pun pergi
meninggalkan Jukun yang tertawa sendirian di pohon pisang
Ke esokan
harinya orang – orang sudah berkumpul di depan rumah Jukun, teman – teman Jukun
melaporkan kejadian kemarin ke kepala desa, dan para orang tua mereka tidak
terima anak mereka di tipu.
Melihat hal itu
Jukun pun lari ke atas gunung lewat pintu belakang, dia membiarkan ayahnya yang
sedang sakit itu untuk menangani masalahnya, diatas gunung dia meratapi
kebohongannya
“ah, masa mereka
tidak bisa diajak bercanda”
Jukun menendang
sebuah kerikil kedalam mulut Gunung, tiba- tiba sebuah percikan api keluar.
“ah, kenapa itu”
Jukun melihat ke
bawah mulut gunung itu, ternyata sebuah Lahar sudah menanjak sampai ke
permukaan. Jukun langsung mundur kebelakang dia berlari ke bawah ingin memberitahu
kejadian tersebut.
Setelah sampai
di rumahnya teryata ke ramaian masih ada, dia pun menceritakan kejadian yang
dia lihat, diatas gunung, namun sayang tidak ada yang percaya dengan ceritanya,
sang ayah pun marah besar, sampai memukul pipi Jukun, Jukun berusaha meyakinkan
tetapi sang ayah sudah malu dengan kelakuan anaknya sehingga dia memukul
anaknya berkali – kali.
Setelah beberapa
saat kemudian sebuah gempa terasa, dan tak lama letusan magma keluar beserta
lahar dari gunung tersebut. Semua orang panik termasuk ayah Jukun.
“benar bukan
yang di bilang Jukun, kailian tidak percaya sih” kata Jukun memegang pipi yang
masih terasa sakit
Tidak ada yang
bisa di lakukan lagi, para warga panik dan memilih untuk mencoba mengungsi dari
tempat itu, namun sayang , sudah tidak ada waktu lagi sampai Gunung itu meletus
untuk kedua kalinya , dan mengeluarkan lahat juga magma yang banyak sehingga
melelehkan desa itu beserta semua warga yang ada disana, bukan hanya desa itu
yang hancur tetapi seluruh kawasan, hutan, kota semuanya hilang meleleh akibat
kebohongan Jukun.
cerita yang sangat membuat ku, menganga . hebat . karena satu kesalahan yang bahkan sering kita lakukan setiap hari , dapat berdampak besar dan merugikan semua pihak. KEBOHONGAN.
BalasHapus