Dari : Situs Alfi

Rabu, 20 November 2013

TUGAS SOFT SKILL 7



Nama : Rizka Septa Anugrah
Kelas  : 1PA11
NPM  : 17513902

PEMBOHONG SEJATI

        Pada suatu hari ada seorang anak bernama Jukun, dia tinggal di sebuah Gunung merapi yang jarang aktif. Ayahnya adalah seorang kuncen penjaga Gunung tersebut, dia yang bertanggung jawab jika ada tanda – tanda gunung akan meletus.
        Pada suatu hari Ayahnya ditugaskan oleh kepala desa untuk mengecek keadaan gunung tersebut, dia pun mengajak sang anak untuk membantunya, sesampai disana ternyata keadaan mulut gunung baik – baik saja, tidak ada aktivitas yang bisa mengguncangkan desa mereka.
        Ke esokan harinya Jukun merasa sangat bosan karena sang ayah sedang jatuh sakit dia pun di suruh oleh sang ayah untuk memeriksa keadaan gunung tersebut kembali sendirian.
        Sesampainya di sana keadaan gunung baik – baik saja. Jukun bosan dia selalu melakukan ini, pada akhirnya dia memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk membuat rasa bosannya hilang.
“Hei teman – teman , Gawat,….!!!” Kata Jukun turun dari bawah gunung dengan bergeleser.
“ada apa kun ? kok sepertinya kamu takut seperti itu”
“gawat….. gunung akan segera meletus” sontak saja ke tiga temannya langsung bangun terkejut
“ apa benar yang kamu bicarakan ini kun?”
“tentu saja , tadi kepala desa menyuruhku untuk memeriksa gunung, dan ternyata lahar magma nya sudah naik”
“gawat para orang dewasa disini sedang pergi berburu, hanya kita saja yang bisa menyelamatkan desa ini” kata teman jukun
“kalau begitu ayo siapkan peralatan kita harus membuat tanggul yang besar untuk menahan lahar yang masuk ke desa”
“Jukun kamu diam saja disini menjaga keadaan, kamu sepertinya lelah telah naik turun bukit”
“baik……” kata Jukun berpura-pura kelelahan
Setelah beberapa saat, teman – teman Jukun pun sudah datang membawa peralatan.
“ dimana Jukun?”
“entahlah, sepertinya mungkin dia sedang mengambil peralatan juga”
“ayo cepat kita buat tanggul terlebih dahulu sebelum laharnya datang”
Merekapun membuat tanggul dengan lihai, sudah dua jam berlalu Jukun tidak datang ,dan perasaan mereka semakin berdebar-debar karena tanggul yang mereka buat masih sangat kecil untuk menahan Lahar.
“Hei,… apa yang kalian lakukan ?” tiba – tiba Jukun sedang berada di atas pohon pisang
“Jukun, cepat kemari bantu kami”
“ untuk apa?” Tanya Jukun
“ tentu saja untuk membuat tanggul, lahar pasti sebentar lagi datang”
“ hahahahahahaha,… lahar tidak akan datang” kata jukun
“apa maksudmu?, kau bilang tadi lahar sudah naik dari mulut gunung”
“hahahahahaha,…. Aku hanya bergurau, tak kusangka kalian bisa tertipu seperti itu”
“Apa maksudmu? Kau menipu kita semua kun!” salah satu teman Jukun Emosi
“turun kau Jukun kalau berani! Biar ku beri pelajaran”
“sudahlah, kita tinggalkan saja anak seperti itu”
Mereka pun pergi meninggalkan Jukun yang tertawa sendirian di pohon pisang
Ke esokan harinya orang – orang sudah berkumpul di depan rumah Jukun, teman – teman Jukun melaporkan kejadian kemarin ke kepala desa, dan para orang tua mereka tidak terima anak mereka di tipu.
Melihat hal itu Jukun pun lari ke atas gunung lewat pintu belakang, dia membiarkan ayahnya yang sedang sakit itu untuk menangani masalahnya, diatas gunung dia meratapi kebohongannya
“ah, masa mereka tidak bisa diajak bercanda”
Jukun menendang sebuah kerikil kedalam mulut Gunung, tiba- tiba sebuah percikan api keluar.
“ah, kenapa itu”
Jukun melihat ke bawah mulut gunung itu, ternyata sebuah Lahar sudah menanjak sampai ke permukaan. Jukun langsung mundur kebelakang dia berlari ke bawah ingin memberitahu kejadian tersebut.
Setelah sampai di rumahnya teryata ke ramaian masih ada, dia pun menceritakan kejadian yang dia lihat, diatas gunung, namun sayang tidak ada yang percaya dengan ceritanya, sang ayah pun marah besar, sampai memukul pipi Jukun, Jukun berusaha meyakinkan tetapi sang ayah sudah malu dengan kelakuan anaknya sehingga dia memukul anaknya berkali – kali.
Setelah beberapa saat kemudian sebuah gempa terasa, dan tak lama letusan magma keluar beserta lahar dari gunung tersebut. Semua orang panik termasuk ayah Jukun.
“benar bukan yang di bilang Jukun, kailian tidak percaya sih” kata Jukun memegang pipi yang masih terasa sakit
Tidak ada yang bisa di lakukan lagi, para warga panik dan memilih untuk mencoba mengungsi dari tempat itu, namun sayang , sudah tidak ada waktu lagi sampai Gunung itu meletus untuk kedua kalinya , dan mengeluarkan lahat juga magma yang banyak sehingga melelehkan desa itu beserta semua warga yang ada disana, bukan hanya desa itu yang hancur tetapi seluruh kawasan, hutan, kota semuanya hilang meleleh akibat kebohongan Jukun.

1 komentar:

  1. cerita yang sangat membuat ku, menganga . hebat . karena satu kesalahan yang bahkan sering kita lakukan setiap hari , dapat berdampak besar dan merugikan semua pihak. KEBOHONGAN.

    BalasHapus